Njeber. Itu istilah yang digunakan mama saat melihat bentuk sikat gigiku yang beda banget dengan bentuk aslinya. Kalimat njeber itu sering kudengar saat aku masih di
Ga dulu ga sekarang, masih sama aja perihal sikat gigi. Sikat gigi yang baru kupakai awal Desember kemarin udah njeber, dan sudah selayaknya untuk diganti. Sebenarnya, kalau aku mau bisa langsung ganti karena aku selalu nyimpan stok barang-barang pribadi di lemari, tapi rasa “eman” membuatku bertahan untuk masih menggunakan sikat biru itu. Rasa “eman” karena sikat itu masih menjalankan fungsinya secara baik, aku merasa gigiku kesat setelah menyikatnya dan selipan-selipan makanan yang ada di sela-sela gigi terangkat meskipun aku membersihkan gigi tanpa dental floss (benang pembersih gigi-red). Huehehehe…jorok ya…emang…ah tapi aku sekarang rajin koq bersihkan gigi...ngeles mode on…
Aku tergelitik untuk menulis karena kejadian kecil kayak gini mengingatkan aku pada mama, pada papa, dan pada rumah. Uhm…betapa hal-hal seperti ini bikin aku kangen dan biasanya berujung dengan telpon yang panjang di malam atau pagi hari (secara jam segitu biasanya rada murah), telpon yang diawali dengan obrolan-obrolan ringan dan candaan…terus dilanjutkan dengan petuah dan nasihat, berantem dikit, terus baikan, petuah lagi, dan diakhiri dengan pesan-pesan yang intinya sama tapi diulangi terus…huehehe…suka ketawa sendiri kalau ingat-ingat kejadian gitu…Ah..ini sebenernya ngomongin sikat gigi atau ngomongin komunikasi dengan mama papa siy??? Hm..sudahlah…terserah yang mbaca aja…
sikat gigi g jg udah mekar seperti bunga mawar neh,,,akibatnya gigi g sering sakait,,tapi sampai sekarang g selalu lupa untuk beli baru sepulang kerja hemh
ReplyDelete@Anonim, beli dong sikat giginya...
ReplyDeletemendingan keluar duit untuk beli sikat gigi daripada keluar duit untuk ke dokter gigi, ya kan???